KEARIFAN BUDAYA LOKAL (20 APRIL 2010)

dayatonya

SIRI’, POLISI  DAN  MASYARAKAT

Hasil Wawancara Kasat PJR Polda Sulsel dgn  Udhin Palisuri *)

Berkaitan dengan pelakasaan tugas kepolisian serta sosialisasi UU Republik Indonesia No.22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan membutuhkan perubahan pola pikir dan prilaku masyarakat. Sementara polisi sendiri harus berusaha membentuk paradigma baru dengan menampilkan wajah bersih polisi menghadapi tantangan masa depan, termasuk perubahan eksternal yang terjadi dalam masyarakat dimana polisi berada. Disini muncul tuntutan perubahan  terhadap peran kepolisian, termasuk etos kerja dan prilaku masyarakat.

Masyarakat menuntut keberadaan polisi profesional, mandiri dan bertanggung jawab. Dibutuhkan sosok Bhayangkara Negara yang senantiasa meningkatkan kemampuan dalam melaksanakan tugas kepolisian sebagai pelayanan, pengayom, serta pelindung masyarakat. Polri dituntut agar mampu mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan mensukseskan tugas kamtibmas. Saatnya mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap kinerja dan penampilan polisi yang merakyat, dihormati dan dicintai rakyat.

Masyarakat di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat sesungguhnya memiliki budaya rasa bersalah ( gult culture ) , budaya rasa malu ( shame – culture ) dan budaya takut akhir (fearand culture ). Ketiganya dapat menjadi dorongan bagi seseorang untuk berprilaku sesuai norma yang berlaku disamping mendorong terciptanya ertos kerja yang tinggi. Budaya rasa malu atau siri’ memang nampak lebih menonjol. Atau di Makassar disebut pacce,  di Bugis disebut pesse’ dan disebut  lokko’ di Toraja dan Mandar.

Dewasa ini penting melakukan interpretasi makna Siri’ sebagai bentuk  revitalisasi dalam menghadapi pengembangan peradaban serta pergaulan global. Hal ini berfungsi mendorong motivator,sosial kontrol,rasa tanggung dan dinamisator sosial.Menurut Prof Abu Hamid ( (S/P IX 2007)kalau siri’ merupakan taruhan harga diri, maka harga diri tersebut harus diangkat melalui kerja keras, berprestasi,berjiwa pelopor dan senantiasa berorientasi keberhasilan. Harga diri terangkat atas dukungan rasa pesse’ ( Bugis ) atau pacce’ ( Makassar ) yaitu solidaritas terhadap orang lain sebagai partisipasi social,karena penilaian harga diri datang dari lingkungan sosial.

Menyangkut etos berhubungan erat dengan sikap moral,meskipun tak selalu identik.Sikap moral mengarah kepada orientasi terhadap norma-norma yang harus ditaati,sedang etos kerja adalah  sikap kehendak yang diperlukan untuk kegiatan terntentu.Sedangkan rasa bersalah dalam suasana hati dan karakter ditutupi dengan melaksanakan kewajiban sepenuh hati. Refleksinya dalam prilaku adalah menumbuhkan sikap tepat kalau berjanji, tepat membayar utang,tepat disiplin waktu, tepat bayar pajak,tepat hormat kepada orang tua, tepat tata karma pada orang lain,tepat kerja menghindari kegagalan dan sebagainya.Rasa bersalah bagi orang Jepang  menjadi pendorong bagi pembangunan masyarakatnya.Tidak mudah bagi bangsa Jepang menunjuk orang sebagai kambing hitam jika terjadi kegagalan kerja dilingkungannya.

Adapun etos kerja masyarakat Sulawesi Selatan atau Sulbar menganut siri’ sebagai shame culture lebih besar daripada guilt-culture.Rasa malu baru timbul apabila diketahui orang lain,sedang rasa bersalah muncul dari dalam diri seseorang.Sebagaimana halnya  bangsa Jepang sudah memacu budayanya ( guilt culture ) menjadi pendorong bagi kemajuan negaranya dan membentuk etos sosialnya. Sudah mengakar dalam masyarakat Sulawesi Selatan budaya rasa malu ( shame culture ) atau siri’ lebih besar dari budaya rasa bersalah.

Sehingga diperlukan pembentukan iklim dan suasana dalam struktur sosial guna merubah world view,akibat kesenjangan nilai yang sudah berlarut-larut.Siri’ disatukan sebagai budaya rasa malu untuk memacu keberhasilan dalam pembangunan.

Shelly Errington,seorang Antropologi Amerika antara lain mengemukakan : Untuk orang Bugis tidak ada tujuan atau alasan hidup lebih penting dan lebih tinggi daripada menjaga “ Siri’”nya dan akalau merasa tersinggung,atau “ripakasiri’ ” ( dipermalukan ) lebih mati karena siri’ daripada tidak punya siri’.Orang Bugis terkenal dimana-mana di Indonesia karena dengan mudah mereka suka berkelahi kalau diperlakukan tidak sesuai dengan derajatnya.Sehingga mereka menyebutnya meninggal karena  Siri’ disebut sebagai Mate ri gollai,mate risantangi ( mati yang diberi gula dan santan ) artinya percaya kalau mati berdarah adalah sesuatu yang berguna. Tentunya tidak semua orang tidak setuju dengan pendapat satu ini.

Untuk itu harus dimengerti  bahwa sesungguhnya Siri’ itu tidak berfifat menentang saja, tetapi juga merupakan perasaan halus, berbudi pekerti dan suci.Seseorang tidak mendengarkan orang tuanya, kurang siri’nya. Semua tindakan tercela di akibatkan karena  seseorang kurang siri’-nya.

Ada 3 istilah Siri’ yang dikenal oleh orang Bugis :

  1. Siri’ = harkat,martabat,dan harga diri manusia
  2. Siri’Masiri’ = perasaan aib,hina,sebagai akibat keadaan buruk menimpa,miskin,dungu,atau kelemahan karena perbuatan sendiri.
  3. Siri’ Ripakasiri’ = perasan malu dan merasa bukan manusia lagi karena terhina. Misalnya ditempeleng atau dimaki-maki didepan umum, diludahi mukanya, dituduh mencuri padahal ia tidak melakukannya, atau isteri dan keluarga perempuannya dilarikan orang.


Sebagai Kapolri, Jenderal Polisi Drs.Widodo Budidarmo, ( 1977 ) mengatakan faktor siri’ tidak dominan sebagai motif penganiayaan dan pembunuhan di kota.Kaum remaja kota ( 97 % ) dan masyarakat kota ( 32 % ) memberikan siri’ sebagai rasa malu dalam arti luas. Jelasnya Kapolri Drs.Widodo Budidarmo mengatakan sebagai berikut :

“………………Saya dapat mempelajari bahwa siri’ adalah pandangan hidup.Menandung ethiek membedakan manusia dengan binatang dengan rasa harga diri dan kehormatan yang melekat pada diri manusia.Mengajarkan moralitas kesusilaan yang berupa anjuran, larangan,kewajiban,dan hak yang mendominasi tindakan manusia untuk menjaga manusia untuk mempertahankan harga diri dan kehormatan tersebut.

Siri’ adalah  hasil proses endapan kaidah-kaidah yang diterima dan berlaku dalam lingkungan masyarakat, mengalami  pertumbuhan berabad-abad  sehingga membudaya. Maka siri’ adalah budaya masyarakat karena hasil budi sehingga tak mungkin sama dengan kejahatan.Rasa harga diri dan kehormatan sebagai esensi siri’ secara explicit membawa serta pengertian malu, suatu rasa yang timbul akibat kehormatan , karena itu siri’ diidentikkan dengan malu.Siri’mewajibkan adanya tindakan  terhadap penyebab timbulnya sepadan dengan tingkatan rasa malu yang ditimbulkan ( reprociteit ),dan dan bentuk-bentuk tindak reprociteit terbentuklah yang kemudian sebagai kejahatan beredasarkan kaidah-kaidah  baru karena perkembangan keadaan.Maka siri’ yang dientik dengan rasa malu terdapat juga pada suku-suku bangsa kita dengan pemakaian istilah yang berbeda.Misalnya wiring untuk orang Jawa, pantang untuk orang Minang, jengga untuk orang Bali dan sebagainya.”   

Orang Makassar membangun kelayakan dalam kehidupan atau membangun harga dirinya,dalam bahasa Makassar disebut “appaenteng siri’” apabila seseorang bekerja keras,berusaha sekuat-kuatnya memperoleh kehidupan yang layak agar tidak terhina karena kemiskinan atau kemelaratan.Walaupun demikian perlu dimengerti jika siri’ dalam peradaban orang Bugis Makassar telah mengalami degradasi baik struktural maupun fungsional.

“Malu berbuat kejam dan malu memukul orang lemah adalah contoh dari siri’ yang sebenarnya,” kata Baharuddin Lopa menyangkut Siri’ dalam masyarakat Mandar. Walau di daerah Mandar tidak begitu banyak terjadi korupsi karena wilayahnya relatif kecil dan tidak banyak proyek pemerintah, namun korupsi ditemukan di hampir semua daerah di Indonesia.Yang lebih parah karena orang yang melakukan korupsi ini banyak diantaranya berpendidikan sarjana dan pegawai tinggi yang menurut lontara’ dan petuah-petuah orang tua, justru golongan yang menjadi panutan rakyat kecil.

Tetapi kini yang terjadi sebaliknya. Karena ada kecendenrungan jsutru golongan rakyat kecil sekarang menjadi panutan oleh golongan yang merasa dirinya atau status sosialnya lebih tinggi ( sarjana,pegawai tinggi,bangsawan dan sebagainya ).

Karena itu perlu menggali kembali mutiara-mutiara siri’ yang terkandung dalam kebudayaan daerah. Kemudian ungkapan tersebut diketahui, dihayati dan diamalkan. Kalau mungkin dijadikan pelajaran di sekolah atau pengetahuan seluruh lapisan masyarakat. Dikampanyekan agar masyarakat menjadi tertib,disiplin dan senantiasa berbuat kebaikan.

Perlu ketauladan dari tokoh masyarakat, ulama, pemuka adat, disetiap daerah di Sulselbar  dalam memanfaatkan makna serta pengertian siri’ dalam memberikan ketauladan kepada masyarakat. Sebagaimana dakwah dan khotbah agama perlu ditingkatkan.Karena sesungguhnya orang beriman otomatis telah memiliki siri’ sebagaimana hadizt Rasulullah sendiri mengatakan, Siri’ adalah sebagian dari iman. ( Riwayat Bukhari Muslim ).

Kita tak bisa menutupi kenyataan bahwa dalam prakteknya siri’ di Mandar atau  umumnya di daerah Sulawesi Selatan dalam prakteknya  dihinggapi erosi yang banyak menyimpang dari maksud, arti, makna dan fungsi siri’ yang sesungguhnya.

Perlu memanfaatkan lembaga siri’ menjadi pendorong dalam usaha meningktakan disiplin masyarakat dan  pembangunan nasional. ***

*)  Seniman / Budayawan Sulawesi Selatan.

Penulis buku puisi “Bom Makassar” terbitan Mabes Polri.

Membaca puisi dalam setiap acara Lepas Sambut Kapolda Sulselbar.


Upaya menyelami Harapan Masyarakat dan menggugahnya supaya memahami pentingnya arti Kamtibmas berikut dampak2nya.